copyright (c) moon and art february 2005
(bagian III)
aku perhatikan dia berjalan ke arah meja kami sambil membawa 2 gelas minuman. hampir tak ada yang berubah darinya. hanya kulit coklatnya kelihatan lebih bersih sekarang, rambut yang dulunya sepunggung, dipotong pendek sebahu, dibalut blazer hitam dan kemeja putih di dalamnya, "wanita karir", gumamku.
ia mengambil segelas orange juice dingin, lalu menyodorkan segelas orange juice tanpa es kepadaku, masih ingat rupanya dia dengan minuman favoritku, hampir saja aku berkomentar mengenai ini, tapi aku urungkan, sekali lagi aku takut kata-kataku ditafsirkan salah olehnya.
aku mulai berbasa-basi menanyakan kenapa sampai dia berpisah, karena setahuku seorang gadis kecil sudah menemani kehidupannya. ia membuka cerita memberitahu bahwa sekarang dia sudah kembali ke rumah orang tuanya. "with my litle angel", katanya. aku gak terlalu konsentrasi mendengar ceritanya, karena sekali lagi pikiranku menerawang, flashback ke kejadian yang lalu.
aku ingat kali terakhir dia menelponku beberapa tahun lalu. saat itu teleponku berdering sesaat setelah istirahat siang, dan aku langsung kenal suaranya hanya dari kata halonya. telepon undangan pernikahan, rupanya. katanya tidak ada undangan hardcopy atau via email, seperti orang kebanyakan. telpon ini adalah undangan khusus darinya dan bilang bahwa kedatanganku sangat dia harapkan.
aku ucapkan selamat, dan turut senang dengan berita ini (klise !), tapi aku bilang bahwa aku gak bakal bisa datang. "i still hurt", kataku. "aku tahu, aku salah dan aku minta maaf, sebelum menelpon aku sudah berpikir seribu kali, aku yakin akan mendengar yang begini dari kamu, tapi aku merasa harus mengundang langsung, kalau aku mau lebih gambang bagiku melayangkan undangan via email, dan gak perlu tahu dibaca atau nggak", katanya.
"aku ngerti, tapi aku gak mau bilang bisa tapi nanti gak muncul". aku belum siap rasanya membayangkan harus melihat senyum bahagianya nanti. pengecut ? mungkin, looser ? bisa jadi, tapi kalau soal hati kata-kata anti-macho tersebut tidak ada artinya bagiku. "okelah", katanya, kali ini dia yang menyerah, "tapi kedatanganmu tetap aku harapkan". ditutupnya gagang telpon di ujung sana. aku letakkan juga gagang teleponku sambil berpikir untuk datang atau tidak, "ah sudahlah, gak penting", gumamku
"there is nothing to be proved anymore...."
(bersambung...)
Recent Comments